PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
PENGGUNAAN
PENDEKATAN PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DALAM UPAYA PENINGKATAN
PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA POKOK BAHASAN GELOMBANG BERJALAN BAGI SISWA KELAS
XII IPA 1 SMA N 1 AIR SUGIHAN
Disusun Oleh :
Firdaus Ayun Puspita Sari
(2010122047)
Semester/Kelas : 6b
Jurusan
: Pendidikan Mipa
Program
Studi : Pendidikan Fisika
Mata
Kuliah : Penelitian
Pendidikan Fisika
Dosen
Pengasuh : Dr. Sardianto, M.Pd, M.Si
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI PELEMBANG
2013
PROPOSAL PTK
JUDUL:
PENGGUNAAN PENDEKATAN
PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL
TEACHING AND LEARNING) DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR FISIKA
PADA POKOK BAHASAN GELOMBANG BERJALAN BAGI SISWA KELAS XII IPA 1 SMA N 1 AIR SIGIHAN
LATAR BELAKANG :
Pendidikan adalah suatu proses dalam
rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap
lingkungan dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam diri siswa yang
memungkinkannya untuk berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat.
Pembelajaran bertugas mengarahkan proses ini agar sasaran dari perubahan itu
dapat tercapai sesuai yang diinginkan. Pengembangan kurikulum terus diupayakan
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pembelajaran yang baik sebaiknya
dilaksanakan secara inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berfikir,
bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting
kecakapan hidup.
Dalam upaya meningkatkan kualitas
pembelajaran guru seringkali menggunakan beberapa metode yang bervariasi.
Pemilihan berbagai metode pembelajaran yang banyak jenisnya tentu harus
dipertimbangkan sebelum digunakan. Pendekatan kooperatif merupakan salah satu
metode pembelajaran yang akhir-akhir ini sering digunakan. Pendekatan ini lebih
menekankan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok
belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam satu perencanaan
kegiatan mengajar. Setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerja sama
secara sportif satu sama lain dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri
maupun pada anggota dalam satu kelompok.
Salah satu teknik dalam pembelajaran
kooperatif adalah dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching And
Learning-CTL). Dalam proses pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih
ditekakan pentingnya lingkungan alamiah yang diciptakan dalam setiap kegiatan
pembelajaran, agar kelas lebih ‘hidup’ dan lebih ‘bermakna’. Pengetahuan itu
akan bermakna manakala ditemukan ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa
untuk menguatkan, memperluas, menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik
mereka dalam situasi dan masalah yang memang ada dalam keseharian siswa.
Pembelajaran CTL tidak hanya menuntun siswa mengukuti pembelajaran dengan
konteks lingkungannya, namun juga menuntun siswa mengeksplorasi makna ‘konteks’
itu sendiri dimana tujuannya untuk menyadarkan siswa bahwa mereka memiliki
kemampuan dan tanggung jawab untuk mempengaruhi dan membentuk susunan konteks
yang beragam mulai dari keluarga, ruang kelas, kelompok, tempat kerja,
komunitas dalam suatu tatanan skosistem.
Beberapa alasan CTL dapat berhasil
dalam pembelajaran karena sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa, pendekatan
CTL mampu mengaitkan inforamasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada, sesuai
dengan cara kerja alam, sehingga penerapan CTL diharapkan pembelajaran yang
terjadi dapat lebih efektif dan efesien. Khususnya kemampuan membaca siswa yang
merupakan aktivitas kompleks yang memerlukan sejumlah tindakan terpisah yang
mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan dan ingatan. Membaca juga
suatu kesatuan kegiatan seperti mengenali huruf dan kata–kata, menghubungkanya
dengan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai makna tulisan
baru.
Masalah utama dalam pembelajaran
Fisika ialah mencari metode atau model pembelajaran yang dapat menyampaikan
materi pelajaran secara tepat, yang memenuhi muatan tatanan nilai, agar dapat
diinternalisasikan pada diri siswa, sehingga siswa mampu mengimplementasikan
hakekat nilai dalam kehidupan sehari-hari. Materi gelombang berjalan menekankan
pada penerapan konsep kelistrikan dan
kemagnetan dalam berbagai penyelesaian masalah dan produk teknologi
Tabel
1.
Rekapitulasi
Nilai Ulangan Harian Siswa Kelas XII IPA 1 SMA N 1 Air Sugihan Tahun Ajaran
2012/2013
|
Rentang Nilai
|
Semester Ganjil tahun ajaran 2012/2013
|
|||
|
Ulangan harian 1
|
Ulangan harian 2
|
|||
|
Jumlah
|
%
|
Jumlah
|
%
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(Sumber:
Buku Nilai Siswa Kelas XII IPA 1)
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
latar belakang permasalahan di atas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan
sebagai berikut: "Apakah penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual
Teaching And Learning dapat meningkatkan prestasi belajar fisika pada pokok
bahasan gelombang berjalan bagi siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Air Sugihan
Tahun Pelajaran 2012/2013?
TUJUAN PENELITIAN
- Untuk
memperbaiki tingkat pemahaman siswa pada pelajaran fisika
- Untuk
meningkatkan kreatifitas siswa dalarn proses kegiatan pembelajaran fisika
- Untuk
meningkatkan prestasi belajar fisika pada pokok bahasan gelombang berjalan
MANFAAT PENELITIAN
a. Bagi
siswa
Dapat memberikan nilai tambah dalam memahami pelajaran fisika pada materi
gelombang berjalan
b. Bagi
guru
Sebagai bahan evaluasi terhadap keberhasilan dalam proses pembelajaran
c. Bagi
sekolah
Memberikan input yang bermanfaat untuk bahan pertimbangan dalam
melaksanakan program kegiatan belajar bagi siswa di masa mendatang.
d. Bagi
peneliti
Dari hasil penelitian diharapkan mendapatkan teori baru tentang peningkatan
prestasi belajar fisika siswa melalui metode Contextual Teaching And
Learning
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Contextual
Teaching and Learning (Pembelajaran Kontekstual)
Contextual Teaching
And Learning atau pembelajaran kontekstual
merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif. Untuk itu sebelumnya dijelaskan
pengertian dari pembelajaran kooperatif (Cooperativ Learning).
a. Definisi Cooperatif Learning.
Menurut Lie “falsafah yang mendasari
penerapan pembelajaran cooperatif learning dalam pendidikan adalah
manusia sebagai makhluk sosial, sehingga kerja sama merupakan kebutuhan yang
sangat penting bagi kelangsungan hidup”. Perbedaan pembelajaran cooperatif learning
dengan pembelajaran kelompok adalah bahwa dalam pembelajaran cooperatif
learning terdapat 5 unsur yang harus diterapkan yaitu: saling
ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, kesempatan bertatap muka
dan berdiskusi, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.
Lebih lanjut Lie menyatakan
“Pembelajaran Cooperatif Learning adalah suatu metode pembelajaran yang
menekankan siswa lebih aktif daripada guru”. Sistem pembelajaran ini mengajak
siswa untuk aktif didalamnya, kreatif dan belajar menerima keragaman. Jadi
siswa dituntut kekompakannya untuk bekerjasama satu dengan yang lainnya dan
saling bertanggung jawab. Jadi keberhasilan belajar dalam pendekatan ini bukan
hanya ditentukan oleh kemampuan individual secara utuh. Melainkan perolehan itu
akan berhasil bila dilakukan bersama-sama dalam kelompok kecil yang terstruktur
dengan baik.
b. Definisi Contextual Teaching and Learning
Menurut Agus, pembelajaran dengan
Pendekatan contextual teaching and learning (CTL) adalah peran guru
dalam proses pembelajaran diharapkan dapat membantu siswanya membuat
hubungan-hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki sebelum dengan
pengetahuan yang baru dan menjadikan siswa mampu menggunakan pemahamannya untuk
mengembangkan dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi siswa.
Selanjutnya menurut Nurhadi
dinyatakan bahwa pendekatatan CTL adalah konsep belajar dimana guru
menghadirkan dunia guru keseharian siswa ke dalam kelas dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapan dalam kehidupan mereka
sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari
konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkontruksi
sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan dalam kehidupan sebagai anggota
masyarakat
Berkaitan dengan pendapat tersebut
dapat disimpulkan bahwa pendekatan CTL adalah system yang holistic (menyeluruh)
yang dapat meningkatkan kemampuan pembelajaran dalam membangun makna yang
dipelajarinya. Dalam pembelajaran CTL maka siswa dapat menguatkan, memperluas
dan menerapkan pengetahuan dan keterapilan akademik dalam berbagai macam
tatanan dalam sekolah dan luar masalah-masalah yang diasimilasikan.
Pendekatan CTL menurut Umedi,
merupakan konsep belajar yang membantu guru mangaitkan materi diajarkannya
dengan situasi yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
pembelajaran efektif. Yakni, kontruksivisme (Contructivisme), bertanya (Quistioning),
Menemukan (Inquiri), Masyarakat Belajar (Learning Community),
Pemodelan (Modeling), Refleksi (Refleksion),
dan Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessement)”.
Berkaitan dengan pendapat tersebut,
Pendekatan CTL adalah system yang holistic (menyeluruh) yang dapat
meningkatkan kemampuan pembelajaran dalam membangun makna yang dipelajarinya.
Dalam pembelajaran CTL maka siswa dapat menguatkan, memperluas dan menerapkan
pengetahuan dan keterapilan akademik dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah
dan luar masalah-masalah yang diasimilasikan. Dan pembelajaran CTL ini terjadi
apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu
pada masalah sehari-hari yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab
mereka sebagi makhluk hidup dalam suatu ekosistem.
c. Faktor-faktor yang Mendukung Pembelajaran Kontekstial
Menurut Sanjaya, ada tiga hal yang
perlu dipahami dalam penerapan Pendekatan CTL, yaitu Pertama, Pendekatan
CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menentukan materi,
artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman langsung. Proses
belajar dalam konteks. Pendekatan CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya
menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi
pelajaran. Kedua, Pendekatan CTL mendorong agar siswa dapat
menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan dengan pengalaman
belajkar di sekolah dengan kehidupan nyata. Ketiga, Pendekatan CTL
mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya Pendekatan
CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan, artinya Pendekatan
CTL bukan hanya mengahap siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya akan
tetapi meteri pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari.
2.
Prestasi Belajar
Menurut menurut Sudjana, prestasi
belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya. Dalam sistem Pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan baik
tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, berdasarkan klasifikasi hasil
belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membagi menjai tiga ranah
yakni:
a. Ranah
kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam
aspek yakni pengetahuan, ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis sintesis dan
evaluasi.
b. Ranah
afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan,
jawaban, atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
c. Ranah
psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan
bertidak. Ada enam aspek ranah psikomotorik yakni gerak refleks, keterampilan
gerak dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan, ketepatan gerakan
keterampilan, dan gerakan ekspresif dan interaktif.
Menurut Usman, bahwa prestasi
belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari
dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Faktor Internal terdiri
dari:
a. Faktor
jasmani, sebagai contoh panca indera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya,
seperti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna,
berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.
b. Faktor
psikologis terdiri atas:
a)
Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial yaitu
kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang dimiliki.
b)
Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian
tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi dan emosi.
c. Faktor
kematangan fisik maupun psikis.
Sedangkan faktor eksternal yang
disebutkan oleh Usman yang mempengaruhi hasil belajar siswa terdiri atas :
a) Faktor
sosial yang terdiri atas: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan
masyarakat, lingkungan kelompok,
b) Faktor
budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian,
c) Faktor
lingkungan fisik seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar,
d) Faktor
spiritual atau keagamaan.
3.
Mata Pelajaran Fisika Pokok
Bahasan Gelombang Berjalan
Druxes et al mengemukakan bahwa
pelajaran fisika menguraikan dan menganalisa struktur dan pristiwa-peristiwa
alam, teknik, dan dunia sekeliling. Dalam pada itu itu akan ditemukan
atauran-aturan atau hukum-hukum dalam alam, yang dapat menerangkan
gejala-gejalanya berdasarkan struktur logika antara sebab dan
akibat. Dalam pada itu eksperimen atau percobaan merupakan alat bantu
yang sangat penting. Struktur ilmiah fisika, dalam pada itu, menyusun atau
membentuk pengertian, hubungan antara pengertian, prinsip, dan hukum yang
berlaku secara umum.
Jadi secara keseluruhan, fisika
dapat dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha menguraikan serta
menjelaskan hukum alam dan kejadian-kejadian alam dengan gambaran menurut
pemikiran manusia. Masalah pelajaran fisika di sekolah-sekolah pendidikan umum
oleh Druxes, et al diuraikan secara singkat :
a. Fisika
“tidak disukai” yaitu masih banyak dipertanyakan kegunaan hasil fisika bagi
manusia
b. Fisika itu
berat, yaitu adanya pengertian dan model yang hampir tak ada hubungannya dengan
dunia yang dapat diindera dan diamati.
c. Pelajaran
fisika tidak “aktual” yaitu pelajaran fisika tidak memuat rencana yang
peristiwa-peristiwa fisika yang sedang terjadi.
d. Pelajaran
fisika itu eksperimental yaitu pelajaran fisika oleh guru harus dibarengi dengan
percobaan di depan kelas dan dilaboratorium oleh siswa.
Menurut KTSP,
materi pokok gelombang berjalan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa
antara lain
a. Memformulasikan gaya listrik, kuat medan listrik, fluks, potensial listrik,
energi potensial listrik serta penerapannya pada keping sejajar
b. Menerapkan induksi magnetik dan gaya magnetik pada beberapa produk
teknologi
c. Memformulasikan konsep induksi Faraday dan arus bolak-balik serta
penerapannya.
4.
Penelitian Tindakan Kelas
Arikunto (2010: 128), menyatakan
bahwa Penelitian Tindakan Kelas atau istilah dalam bahasa Inggris adalah Classroom
Action Research (CAR) sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu dikenal dan
ramai dibicarakan dalam dunia pendidikan. Ada 3 kata pembentuk pengertian PTK
yaitu:
a. Penelitian,
menunjukkan pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara
dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang
bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting
bagi peneliti.
b. Tindakan,
menunjukkan pada suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan
tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian kegiatan siklus untuk siswa.
c. Kelas, dalam
hal mi tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih
spesifik yaitu sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran
yang sama dari guru yang sama pula.
Dengan menggabungkan batasan
pengertian tiga kata tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas
merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan
yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.
Tindakan tersebut diberikan oleh guru dengan arahan dari guru yang dilakukan
siswa.
Menurut Suhardjono, tujuan utama
penelitian tindakan kelas yaitu untuk memecahkan permasalahan nyata yang
terjadi di dalam kelas. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk
memecahkan masalah tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut
dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan. Tujuan selanjutnya yaitu untuk
meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesionalnya. Pada
intinya tujuan dan penelitian tindakan kelas yaitu untuk memperbaiki berbagai
persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang
dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa.
PTK terdiri atas rangkaian empat
kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Menurut Suhardjono keempat
kegiatan yang ada pada setiap siklus yaitu (a) perencanaan, (b) tindakan, (c)
pengamatan, (d) refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut: Siklus pertama
yang terdiri dan empat kegiatan.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: “Diduga penggunaan
pendekatan pembelajaran Contextual Teaching And Learning dapat
meningkatkan prestasi belajar fisika pada pokok bahasan gelombang berjalan bagi
siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Air Sigihan Tahun Pelajaran 2012/2013
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis
penelitian penelitian tindakan kelas (PTK)
Setting Penelitian
Tempat penelitian ini adalah di SMA
Negeri Air Sugihan Tahun Pelajaran 2012/2013. Kondisi Geografis di Air Sugihan
berada di kabupaten Ogan Komering Ilir. Letak SMA 1 Air Sugihan di Desa
Kertamukti jalur 27 yang juga dekat dengan Kantor Kecamatan. Mayoritas penduduk
air sugihan adalah petani.
Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi
subjek penelitian dan sampel adalah seluruh siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Air
Sugihan tahun pelajaran 2012/2013 dengan
jumlah siswa 38 siswa, yang terdiri dari 12 siswa putra dan 26 siswa putri.
Rencana Penelitian
Siklus I
Tahap I:
Perencanaan
Peneliti melakukan perencanaan
tindakan kelas yang akan dilakukan untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas XII
IPA 1 pada saat pelajaran Fisika, karena :
a.
Keaktifan
siswa di dalam pembelajaran masih kurang,
b.
Keberanian
siswa dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan belum ada,
c.
kemampuan
menguasai materi yang belum optimal,
d.
Hasil
belajar siswa masih rendah. Penelitian itu dilaksanakan pada bulan juli
sampai bulan desember 2012 di SMA Negeri 1 Air Sugihan. Tindakan awal yang
dilakukan adalah perencanaan penggunaan strategi Cooperatif Learning.
Tahap II:
Pelaksanaan
Pada penelitian ini guru akan
memberikan pelajaran dengan strategi Cooperatif Learning. Guru menyiapkan skenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk
mempelajari skenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian
kompetensi, menunjuk siswa untuk memimpin diskusi membahas materi yang sudah
dipelajari dan dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, presentasi hasil
kelompok, bimbingan penyimpulan dan refleksi.
Tahap III:
Pengamatan
Dalam tahap ini peneliti hanya
mengamati tindakan yang telah direncanakan pada tahap awal dan tidak melakukan
tindakan tersebut, yang melakukan tindakan adalah guru mata pelajaran Fisika
kelas XII IPA 1 SMA N 1 Air Sugihan . Tindakan tersebut adalah strategi Cooperatif
Learning untuk meningkatkan keaktifan siswa pada saat pelajaran Fisika.
Pada pengamatan tersebut ternyata masih banyak siswa yang belum aktif dalam
kelompoknya dan pada saat diskusi tidak bisa menjawab pertanyaan dari siswa
lain.
Tahap IV:
Refleksi (Reflecting)
Hasil evaluasi jika tindakan yang
dilakukan oleh guru dirasa belum berhasil, dapat dilihat dari tingkat keaktifan
siswa yang masih rendah dan dalam diskusi siswa yang tidak bisa menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh siswa lain secara baik dan benar sesuai yang
diharapkan.
Siklus II
Siklus II, dilakukan untuk menguatkan tindakan pada
siklus I yang terdiri dari:
Tahap I: Perencanaan
(Planning)
Peneliti melakukan perencanaan
tindakan kelas yang akan dilakukan untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas XII
IPA 1 pada saat pelajaran Fisika, karena keaktifan siswa dirasa kurang saat
guru menyampaikan materi Fisika di kelas. Tindakan awal yang dilakukan adalah
pemberian observasi terhadap keaktifan siswa pada saat guru menyampaikan
materi. Pada siklus ke-2 ini akan diberikan strategi Cooperatif Learning
khusus kepada para siswa yang kurang aktif pada siklus 1. Diharapkan dengan
tindakan tersebut siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran, sehingga pemahaman
rnateri akan semakin bertambah dan prestasi juga akan lebih meningkat.
Tahap II:
Palaksanaan (Acting)
Pada siklus ke-2 penelitian ini guru
akan memberikan strategi Cooperatif Learning khusus kepada siswa yang
kurang aktif pada siklus 1, sedangkan siswa yang pada siklus 1 sudah aktif
dipisahkan. Diharapkan antara siswa yang kurang aktif akan mengambil peranan
yang lebih besar dalam proses belajar.
Tahap III:
Pengamatan (Observing)
Pada tahap ini dilakukan observasi
terhadap siswa yang kurang aktif pada siklus 1. Diharapkan dengan memisahkan
siswa yang kurang aktif dan siswa yang aktif, maka siswa akan lebih aktif dalam
pelajaran
Tahap IV:
Refleksi (reflecting)
Disini guru mata pelajaran Fisika
kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 air Sugihan mengatakan kepada peneliti tentang
hal-hal yang dirasakan sudah berjalan baik atau belum, dan sudah berhasil atau
belum tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan keaktifan siswa. Ternyata
disini tindakan yang dilakukan oleh guru dirasa cukup berhasil. Dapat dilihat
dari observasi yang menunjukkan tingkat keaktifan siswa yang meningkat.
Jadwal
Penelitian Tindakan Kelas
|
No.
|
Kegiatan
|
Minggu
ke
|
|||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
||
|
1
|
Penyusunan
Proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Seminar
Proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Persiapan
Penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Pelaksanaan
Siklus 1
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Pelaksanaan
Siklus 2
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Pelaksanaan
Siklus 3
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Analisis
Data
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Penulisan
Laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Seminar
Hasil
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
Perbaikan
Laporan
|
|
|
|
|
|
|
Instrumen Pengumpulan Data
a. Observasi. Menurut Arikuto (2010:199)
"Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan
pengamatan secara teliti serta pencacatan secara sistematis". Dalam hal
ini, peneliti langsung mengadakan pengamatan atau observasi mengenai tindakan
yang dilakukan, serta mencatat hasil-hasilnya secara sistematis.
b. Wawancara. Menurut
Arikunto (2010:198) " Wawancara adalah suatu metode atau cara yang
digunakan untuk mendapatkan jawabaan dari responden dengan jalan tanya jawab
sepihak". Dalam penelitian ini peneliti mengajukan beberapa pertanyaan
pada guru dan siswa dengan tanya jawab secara langsung.
TEKNIK ANALISIS DATA
Penelitian ini menggunakan analisis
data kualitatif. Menurut Moleong (2007:248) analisis data kualitatif adalah:
“Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,
memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari
dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan
memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.”
Selanjutnya Moleong (2007:248) menjelaskan
tahapan analisis data kualitatif adalah sebagai berikut:
a. Membaca/mempelajari
data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data.
b. Mempelajari
kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema berasal dari data.
c. Menuliskan
'model' yang ditemukan.
d. Koding yang
telah dilakukan
Analisis
Data Intrumen
Analisis
data Observasi dan Wawancara
Keterangan:
NP
: Nilai persen yang dicari dan diungkapkan
SM : Check list maksimum
R
: Check list mentah yang diperoleh siswa
100 : Bilangan
Tetap
TABEL
1
Analisis
Data Aktivitas Belajar Siswa
|
Nilai
|
Kategori kinerja
|
|
81 – 100
61 – 80
41 – 60
21 – 40
< 20
|
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang
|
Target Pencapaian
Dengan
Penggunaan
strategi Contextual Teaching
And Learning di harapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa pada mata
pelajaran Fisika pada pokok bahasan gelombang berjalan bagi siswa kelas XII IPA
1 SMA Negeri 1 Air Sugihan tahun pelajaran 2012/2013.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
http://articleforcash02.blogspot.com/2012/06/contoh-ptk-fisika-sma-penggunaan.html
(Di akses 29 April 2013, 23.42 WIB)
Sudjana. 2002. Metode
Statistika. Bandung: Tarsito.
tolong kirimkan Rencana Program pembelajarannya sekarang
BalasHapustolong kirimkan Rencana Program pembelajarannya sekarang
BalasHapus