Selasa, 15 Oktober 2013

PTK

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
PENGGUNAAN    PENDEKATAN    PEMBELAJARAN   DAN  PENGAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DALAM  UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA POKOK BAHASAN GELOMBANG BERJALAN BAGI SISWA KELAS XII IPA 1 SMA N 1 AIR SUGIHAN

Disusun Oleh :
Firdaus Ayun Puspita Sari
(2010122047)

Semester/Kelas         : 6b
Jurusan                     : Pendidikan Mipa
Program Studi           : Pendidikan Fisika
Mata Kuliah               : Penelitian Pendidikan Fisika
Dosen Pengasuh       : Dr. Sardianto, M.Pd, M.Si

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PELEMBANG
2013
PROPOSAL PTK

JUDUL:
PENGGUNAAN    PENDEKATAN    PEMBELAJARAN   DAN   PENGAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DALAM  UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA POKOK BAHASAN GELOMBANG BERJALAN BAGI SISWA KELAS XII IPA 1 SMA N 1 AIR SIGIHAN

LATAR BELAKANG :
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungan dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam diri siswa yang memungkinkannya untuk berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat. Pembelajaran bertugas mengarahkan proses ini agar sasaran dari perubahan itu dapat tercapai sesuai yang diinginkan. Pengembangan kurikulum terus diupayakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pembelajaran yang baik sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran guru seringkali menggunakan beberapa metode yang bervariasi. Pemilihan berbagai metode pembelajaran yang banyak jenisnya tentu harus dipertimbangkan sebelum digunakan. Pendekatan kooperatif merupakan salah satu metode pembelajaran yang akhir-akhir ini sering digunakan. Pendekatan ini lebih menekankan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam satu perencanaan kegiatan mengajar. Setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerja sama secara sportif satu sama lain dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun pada anggota dalam satu kelompok.
Salah satu teknik dalam pembelajaran kooperatif adalah dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching And Learning-CTL). Dalam proses pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih ditekakan pentingnya lingkungan alamiah yang diciptakan dalam setiap kegiatan pembelajaran, agar kelas lebih ‘hidup’ dan lebih ‘bermakna’. Pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa untuk menguatkan, memperluas, menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam situasi dan masalah yang memang ada dalam keseharian siswa. Pembelajaran CTL tidak hanya menuntun siswa mengukuti pembelajaran dengan konteks lingkungannya, namun juga menuntun siswa mengeksplorasi makna ‘konteks’ itu sendiri dimana tujuannya untuk menyadarkan siswa bahwa mereka memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk mempengaruhi dan membentuk susunan konteks yang beragam mulai dari keluarga, ruang kelas, kelompok, tempat kerja, komunitas dalam suatu tatanan skosistem.
Beberapa alasan CTL dapat berhasil dalam pembelajaran karena sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa, pendekatan CTL mampu mengaitkan inforamasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada, sesuai dengan cara kerja alam, sehingga penerapan CTL diharapkan pembelajaran yang terjadi dapat lebih efektif dan efesien. Khususnya kemampuan membaca siswa yang merupakan aktivitas kompleks yang memerlukan sejumlah tindakan terpisah yang mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan dan ingatan. Membaca juga suatu kesatuan kegiatan seperti mengenali huruf dan kata–kata, menghubungkanya dengan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai makna tulisan baru.
Masalah utama dalam pembelajaran Fisika ialah mencari metode atau model pembelajaran yang dapat menyampaikan materi pelajaran secara tepat, yang memenuhi muatan tatanan nilai, agar dapat diinternalisasikan pada diri siswa, sehingga siswa mampu mengimplementasikan hakekat nilai dalam kehidupan sehari-hari. Materi gelombang berjalan menekankan pada penerapan konsep kelistrikan dan kemagnetan dalam berbagai penyelesaian masalah dan produk teknologi
Tabel 1.
Rekapitulasi Nilai Ulangan Harian Siswa Kelas XII IPA 1 SMA N 1 Air Sugihan Tahun Ajaran 2012/2013
Rentang Nilai
Semester Ganjil tahun ajaran 2012/2013
Ulangan harian 1
Ulangan harian 2
Jumlah
%
Jumlah
%




















(Sumber: Buku Nilai Siswa Kelas XII IPA 1)
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut: "Apakah penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching And Learning dapat meningkatkan prestasi belajar fisika pada pokok bahasan gelombang berjalan bagi siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Air Sugihan Tahun Pelajaran 2012/2013?

TUJUAN PENELITIAN
  1. Untuk memperbaiki tingkat pemahaman siswa pada pelajaran fisika
  2. Untuk meningkatkan kreatifitas siswa dalarn proses kegiatan pembelajaran fisika
  3. Untuk meningkatkan prestasi belajar fisika pada pokok bahasan gelombang berjalan

MANFAAT PENELITIAN
a.       Bagi siswa
Dapat memberikan nilai tambah dalam memahami pelajaran fisika pada materi gelombang berjalan
b.      Bagi guru
Sebagai bahan evaluasi terhadap keberhasilan dalam proses pembelajaran
c.       Bagi sekolah
Memberikan input yang bermanfaat untuk bahan pertimbangan dalam melaksanakan program kegiatan belajar bagi siswa di masa mendatang.
d.      Bagi peneliti
Dari hasil penelitian diharapkan mendapatkan teori baru tentang peningkatan prestasi belajar fisika siswa melalui metode Contextual Teaching And Learning
TINJAUAN PUSTAKA
1.      Contextual Teaching and  Learning (Pembelajaran Kontekstual)
Contextual Teaching And Learning atau pembelajaran kontekstual merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif. Untuk itu sebelumnya dijelaskan pengertian dari pembelajaran kooperatif (Cooperativ Learning).
a.       Definisi Cooperatif Learning.
Menurut Lie “falsafah yang mendasari penerapan pembelajaran cooperatif learning dalam pendidikan adalah manusia sebagai makhluk sosial, sehingga kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup”. Perbedaan pembelajaran cooperatif learning dengan pembelajaran kelompok adalah bahwa dalam pembelajaran cooperatif learning terdapat 5 unsur yang harus diterapkan yaitu: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, kesempatan bertatap muka dan berdiskusi, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.
Lebih lanjut Lie menyatakan “Pembelajaran Cooperatif Learning adalah suatu metode pembelajaran yang menekankan siswa lebih aktif daripada guru”. Sistem pembelajaran ini mengajak siswa untuk aktif didalamnya, kreatif dan belajar menerima keragaman. Jadi siswa dituntut kekompakannya untuk bekerjasama satu dengan yang lainnya dan saling bertanggung jawab. Jadi keberhasilan belajar dalam pendekatan ini bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individual secara utuh. Melainkan perolehan itu akan berhasil bila dilakukan bersama-sama dalam kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.

b.      Definisi Contextual Teaching and Learning
Menurut Agus, pembelajaran dengan Pendekatan contextual teaching and learning (CTL) adalah peran guru dalam proses pembelajaran diharapkan dapat membantu siswanya membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki sebelum dengan pengetahuan yang baru dan menjadikan siswa mampu menggunakan pemahamannya untuk mengembangkan dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi siswa.
Selanjutnya menurut Nurhadi dinyatakan bahwa pendekatatan CTL adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia guru keseharian siswa ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkontruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan dalam kehidupan sebagai anggota masyarakat
Berkaitan dengan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan CTL adalah system yang holistic (menyeluruh) yang dapat meningkatkan kemampuan pembelajaran dalam membangun makna yang dipelajarinya. Dalam pembelajaran CTL maka siswa dapat menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterapilan akademik dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar masalah-masalah yang diasimilasikan.
Pendekatan CTL menurut Umedi, merupakan konsep belajar yang membantu guru mangaitkan materi diajarkannya dengan situasi yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai pembelajaran efektif. Yakni, kontruksivisme (Contructivisme), bertanya (Quistioning), Menemukan (Inquiri), Masyarakat Belajar (Learning Community), Pemodelan (Modeling), Refleksi (Refleksion), dan Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessement)”.
Berkaitan dengan pendapat tersebut, Pendekatan CTL adalah system yang holistic (menyeluruh) yang dapat meningkatkan kemampuan pembelajaran dalam membangun makna yang dipelajarinya. Dalam pembelajaran CTL maka siswa dapat menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterapilan akademik dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar masalah-masalah yang diasimilasikan. Dan pembelajaran CTL ini terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah sehari-hari  yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagi makhluk hidup dalam suatu ekosistem.

c.       Faktor-faktor yang Mendukung Pembelajaran Kontekstial
Menurut Sanjaya, ada tiga hal yang perlu dipahami dalam penerapan Pendekatan CTL, yaitu Pertama, Pendekatan CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menentukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman langsung. Proses belajar dalam konteks. Pendekatan CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Kedua, Pendekatan CTL mendorong agar siswa dapat menemukan  hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan dengan pengalaman belajkar di sekolah dengan kehidupan nyata. Ketiga,  Pendekatan CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya Pendekatan CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan, artinya Pendekatan CTL bukan hanya mengahap siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya akan tetapi meteri pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.



2.      Prestasi Belajar
Menurut menurut Sudjana, prestasi belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dalam sistem Pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, berdasarkan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membagi menjai tiga ranah yakni:
a.       Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan, ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis sintesis dan evaluasi.
b.      Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban, atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
c.       Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertidak. Ada enam aspek ranah psikomotorik yakni gerak refleks, keterampilan gerak dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan, ketepatan gerakan keterampilan, dan gerakan ekspresif dan interaktif.
Menurut Usman, bahwa prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Faktor Internal terdiri dari:
a.       Faktor jasmani, sebagai contoh panca indera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seperti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.
b.      Faktor psikologis terdiri atas:
a)      Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang dimiliki.
b)      Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi dan emosi.
c.       Faktor kematangan fisik maupun psikis.
Sedangkan faktor eksternal yang disebutkan oleh Usman yang mempengaruhi hasil belajar siswa terdiri atas :
a)      Faktor sosial yang terdiri atas: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, lingkungan kelompok,
b)      Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian,
c)      Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar,
d)     Faktor spiritual atau keagamaan.

3.      Mata Pelajaran Fisika Pokok Bahasan Gelombang Berjalan
Druxes et al mengemukakan bahwa pelajaran fisika menguraikan dan menganalisa struktur dan pristiwa-peristiwa alam, teknik, dan dunia sekeliling. Dalam pada itu itu akan ditemukan atauran-aturan atau hukum-hukum dalam alam, yang dapat menerangkan gejala-gejalanya berdasarkan struktur logika  antara sebab dan akibat.  Dalam pada itu eksperimen atau percobaan merupakan alat bantu yang sangat penting. Struktur ilmiah fisika, dalam pada itu, menyusun atau membentuk  pengertian, hubungan antara pengertian, prinsip, dan hukum yang berlaku secara umum.
Jadi secara keseluruhan, fisika dapat dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha menguraikan serta menjelaskan hukum alam dan kejadian-kejadian alam dengan gambaran menurut pemikiran manusia. Masalah pelajaran fisika di sekolah-sekolah pendidikan umum oleh Druxes, et al diuraikan secara singkat :
a.       Fisika “tidak disukai” yaitu masih banyak dipertanyakan kegunaan hasil fisika bagi manusia
b.      Fisika itu berat, yaitu adanya pengertian dan model yang hampir tak ada hubungannya dengan dunia yang dapat diindera dan diamati.
c.       Pelajaran fisika tidak “aktual” yaitu pelajaran fisika tidak memuat rencana yang peristiwa-peristiwa fisika yang sedang terjadi.
d.      Pelajaran fisika itu eksperimental yaitu pelajaran fisika oleh guru harus dibarengi dengan percobaan di depan kelas dan dilaboratorium oleh siswa.
Menurut KTSP, materi pokok gelombang berjalan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa antara lain
a.       Memformulasikan gaya listrik, kuat medan listrik, fluks, potensial listrik, energi potensial listrik serta penerapannya pada keping sejajar
b.      Menerapkan induksi magnetik dan gaya magnetik pada beberapa produk teknologi
c.       Memformulasikan konsep induksi Faraday dan arus bolak-balik serta penerapannya.

4.      Penelitian Tindakan Kelas
Arikunto (2010: 128), menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas atau istilah dalam bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR) sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu dikenal dan ramai dibicarakan dalam dunia pendidikan. Ada 3 kata pembentuk pengertian PTK yaitu:
a.       Penelitian, menunjukkan pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
b.      Tindakan, menunjukkan pada suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian kegiatan siklus untuk siswa.
c.       Kelas, dalam hal mi tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik yaitu sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.
Dengan menggabungkan batasan pengertian tiga kata tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru dengan arahan dari guru yang dilakukan siswa.
Menurut Suhardjono, tujuan utama penelitian tindakan kelas yaitu untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan. Tujuan selanjutnya yaitu untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesionalnya. Pada intinya tujuan dan penelitian tindakan kelas yaitu untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa.
PTK terdiri atas rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Menurut Suhardjono keempat kegiatan yang ada pada setiap siklus yaitu (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, (d) refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut: Siklus pertama yang terdiri dan empat kegiatan.

Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: “Diduga penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching And Learning dapat meningkatkan prestasi belajar fisika pada pokok bahasan gelombang berjalan bagi siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Air Sigihan Tahun Pelajaran 2012/2013

Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian penelitian tindakan kelas (PTK)
Setting Penelitian
Tempat penelitian ini adalah di SMA Negeri Air Sugihan Tahun Pelajaran 2012/2013. Kondisi Geografis di Air Sugihan berada di kabupaten Ogan Komering Ilir. Letak SMA 1 Air Sugihan di Desa Kertamukti jalur 27 yang juga dekat dengan Kantor Kecamatan. Mayoritas penduduk air sugihan adalah petani.

Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian dan sampel adalah seluruh siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Air Sugihan tahun pelajaran 2012/2013  dengan jumlah siswa 38 siswa, yang terdiri dari 12 siswa putra dan 26 siswa putri.

Rencana Penelitian
Siklus I
Tahap I: Perencanaan
Peneliti melakukan perencanaan tindakan kelas yang akan dilakukan untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas XII IPA 1 pada saat pelajaran Fisika, karena :
a.       Keaktifan siswa di dalam pembelajaran masih kurang,
b.      Keberanian siswa dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan belum ada,
c.       kemampuan menguasai materi yang belum optimal,
d.      Hasil belajar siswa masih rendah.  Penelitian itu dilaksanakan pada bulan juli sampai bulan desember 2012 di SMA Negeri 1 Air Sugihan. Tindakan awal yang dilakukan adalah perencanaan penggunaan strategi Cooperatif Learning.

Tahap II: Pelaksanaan
Pada penelitian ini guru akan memberikan pelajaran dengan strategi Cooperatif Learning. Guru menyiapkan skenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk memimpin diskusi membahas materi yang sudah dipelajari dan dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan dan refleksi.

Tahap III: Pengamatan
Dalam tahap ini peneliti hanya mengamati tindakan yang telah direncanakan pada tahap awal dan tidak melakukan tindakan tersebut, yang melakukan tindakan adalah guru mata pelajaran Fisika kelas XII IPA 1 SMA N 1 Air Sugihan . Tindakan tersebut adalah strategi Cooperatif Learning untuk meningkatkan keaktifan siswa pada saat pelajaran Fisika. Pada pengamatan tersebut ternyata masih banyak siswa yang belum aktif dalam kelompoknya dan pada saat diskusi tidak bisa menjawab pertanyaan dari siswa lain. 

Tahap IV: Refleksi (Reflecting)
Hasil evaluasi jika tindakan yang dilakukan oleh guru dirasa belum berhasil, dapat dilihat dari tingkat keaktifan siswa yang masih rendah dan dalam diskusi siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa lain secara baik dan benar sesuai yang diharapkan.

Siklus II
Siklus II, dilakukan untuk menguatkan tindakan pada siklus I yang terdiri dari:

Tahap I: Perencanaan (Planning)
Peneliti melakukan perencanaan tindakan kelas yang akan dilakukan untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas XII IPA 1 pada saat pelajaran Fisika, karena keaktifan siswa dirasa kurang saat guru menyampaikan materi Fisika di kelas. Tindakan awal yang dilakukan adalah pemberian observasi terhadap keaktifan siswa pada saat guru menyampaikan materi. Pada siklus ke-2 ini akan diberikan strategi Cooperatif Learning khusus kepada para siswa yang kurang aktif pada siklus 1. Diharapkan dengan tindakan tersebut siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran, sehingga pemahaman rnateri akan semakin bertambah dan prestasi juga akan lebih meningkat.

Tahap II: Palaksanaan (Acting)
Pada siklus ke-2 penelitian ini guru akan memberikan strategi Cooperatif Learning khusus kepada siswa yang kurang aktif pada siklus 1, sedangkan siswa yang pada siklus 1 sudah aktif dipisahkan. Diharapkan antara siswa yang kurang aktif akan mengambil peranan yang lebih besar dalam proses belajar.

Tahap III: Pengamatan (Observing)
Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap siswa yang kurang aktif pada siklus 1. Diharapkan dengan memisahkan siswa yang kurang aktif dan siswa yang aktif, maka siswa akan lebih aktif dalam pelajaran
Tahap IV: Refleksi (reflecting)
Disini guru mata pelajaran Fisika kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 air Sugihan mengatakan kepada peneliti tentang hal-hal yang dirasakan sudah berjalan baik atau belum, dan sudah berhasil atau belum tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan keaktifan siswa. Ternyata disini tindakan yang dilakukan oleh guru dirasa cukup berhasil. Dapat dilihat dari observasi yang menunjukkan tingkat keaktifan siswa yang meningkat.
Jadwal Penelitian Tindakan Kelas
No.
Kegiatan
Minggu ke
1
2
3
4
5
6
1
Penyusunan Proposal






2
Seminar Proposal






3
Persiapan Penelitian






4
Pelaksanaan Siklus 1






5
Pelaksanaan Siklus 2






6
Pelaksanaan Siklus 3






7
Analisis Data






8
Penulisan Laporan






9
Seminar Hasil






10
Perbaikan Laporan







Instrumen Pengumpulan Data
a.       Observasi. Menurut Arikuto (2010:199) "Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencacatan secara sistematis". Dalam hal ini, peneliti langsung mengadakan pengamatan atau observasi mengenai tindakan yang dilakukan, serta mencatat hasil-hasilnya secara sistematis.
b.      Wawancara. Menurut Arikunto (2010:198) " Wawancara adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawabaan dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak". Dalam penelitian ini peneliti mengajukan beberapa pertanyaan pada guru dan siswa dengan tanya jawab secara langsung.

TEKNIK ANALISIS DATA
Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif. Menurut Moleong (2007:248) analisis data kualitatif adalah: “Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.”
Selanjutnya Moleong (2007:248) menjelaskan tahapan analisis data kualitatif adalah sebagai berikut:
a.       Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data.
b.      Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema berasal dari data.
c.       Menuliskan 'model' yang ditemukan.
d.      Koding yang telah dilakukan


Analisis Data Intrumen
Analisis data Observasi dan Wawancara
 
Keterangan:
NP : Nilai persen yang dicari dan diungkapkan
SM : Check list maksimum
R    : Check list mentah yang diperoleh siswa
100 : Bilangan Tetap
TABEL 1
Analisis Data Aktivitas Belajar Siswa
Nilai
Kategori kinerja
81 – 100
61 – 80
41 – 60
21 – 40
< 20
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang

Target Pencapaian
Dengan Penggunaan strategi Contextual Teaching And Learning di harapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa pada mata pelajaran Fisika pada pokok bahasan gelombang berjalan bagi siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Air Sugihan tahun pelajaran 2012/2013.

Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

2 komentar:

  1. tolong kirimkan Rencana Program pembelajarannya sekarang

    BalasHapus
  2. tolong kirimkan Rencana Program pembelajarannya sekarang

    BalasHapus